Perpustakaan Kemenag RI
KEMENTERIAN AGAMA RI
Kabar Utama

Perpustakaan: Dari Jalan Sunyi Menuju Third Place

HA
Hariyah
16 Maret 2026
Perpustakaan: Dari Jalan Sunyi Menuju Third Place

Oleh: Hariyah

Pustakawan Ahli Madya Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM

Kementerian Agama

 

Dahulu kala, sebelum keramain dunia gen-Z saat ini, perpustakaan ibarat rumah tanpa penghuni, sepi. Deretan buku yang berjajar rapi, akrab dengan debu dan kesunyian. Tak ada yang menyentuh, bahkan hanya satu dua orang saja yang melemparkan pandangan padanya. Lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan kesan.

 

Ruang yang luas itu padat dengan jajaran buku yang setiap tahun bertambah tanpa pernah menemukan pembacanya. Teringat perkataan S.R. Ranganathan, bapak Ilmu Perpustakaan, dia mengatakan bahwa books are for use, every reader his/her book, every book its reader. Jadi, buku harus dimanfaatkan oleh pengguna, perpustakaan harus menyediakan buku yang sesuai kebutuhan pengguna, sehingga setiap buku akan menemukan pembacanya yang tepat.

 

Pustakawan sibuk mengolah buku. Mengklasifikasi, menentukan subjek, mengentri data dalam sistem yang masih sederhana, memberikan atribut buku, hingga siap dijajarkan di rak koleksi. Setelah itu, selesai. Buku yang begitu indah, penuh makna, kebijakan, ilmu, hingga data, terpaku dalam kesunyian entah untuk berapa lama.

 

Dahulu juga, ada peneliti. Begitu banyak riset yang dihasilkan hingga menjadi acuan. Sayangnya dokumen itu bertebaran, ada di banyak tempat, di peneliti, di meja kerja, di lemari kantor, bahkan hingga di rak buku di rumah mereka. Akses menjadi hal yang mahal. Tidak mudah menemukannya. Hingga perpustakaan hadir untuk menghimpun dan mengelolanya menjadi sumber daya informasi yang kaya, luas dan aksesibel. Langkah ini dikuatkan oleh Undang-undang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) No.13 Tahun 2018 dan KMA No.8 Tahun 2023 tentang Pengelolaan satu akun ISBN dan Layanan SSKCKR untuk melakukan fungsi  pelestarian, menghimpun karya cetak dan karya rekam di lingkungan Kementerian Agama.

 

Perpustakaan yang sunyi itu, mulai menggeliat. Beberapa orang mulai sering ke perpustakaan untuk  riset dan menekuri data-data yang tertera, meski hanya singgah sesaat. Ruang koleksi yang cukup luas saat itu, masih haus pengunjung. Kesunyian masih mendera. Kondisi yang sangat kontras, karena gedung tempat bernaungnya berada di keramaian kota yang sangat strategis.

 

Tepatnya di sudut Jalan M.H. Thamrin no.6 dan diresmikan oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni tahun 2010, gedung Kementerian Agama 20 lantai ini aktif beroperasi. Dan seksinya lagi, perpustakaan berada di lantai 2. Sebuah lokasi yang sangat mudah dijangkau even saat mati listrik atau eror pada lift, ia masih bisa dijangkau dengan tangga darurat. Moda transportasi yang bisa digunakan cukup banyak dan bervariatif, dan akan menghantarkan pemustaka  ke lokasi ini dengan tepat.  Seolah posisi ini menawarkan kepada siapa saja yang datang dan menggunakan perpustakaan, bahwa tidak ada kesulitan menuju rumah “kebijaksanaan” ini.

 

Lantai 2 gedung Thamrin ingin memberikan kesan hangat dan familiar kepada siapa saja yang datang. Ia bagaikan rumah umat, rumah dari beragam umat beragama yang menjadi pusat rujukan literasi keagamaan yang direpresentasikan dengan jargon literate to moderate. Siapa saja boleh masuk ke sini tanpa memandang agama, suku, bangsa, dan golongan. Tak mengenal apakah karyawan atau bukan, juga tak mengenal apakah peneliti atau mahasiswa. Tak mengenal tua atau muda. Tak mengenal pejabat atau bukan. Bahkan welcome untuk mereka yang disabilitas. Semua unsur bisa ada di sini. Siapa saja bisa berkunjung dengan alasan paling kompleks sampai sederhana sekalipun. Mencari rujukan untuk riset, bahan kuliah, praktik kerja, hingga untuk mencari lokasi menyendiri sekadar untuk ngadem bahkan tidur. 

 

 

Perpustakaan yang berada di bawah unit kerja Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia yang mengklaim diri sebagai Perpustakaan Kementerian Agama dan satu-satunya di kantor pusat, kini semakin hidup. Seluruh koleksi yang terkait dengan khazanah keagamaan, pemikiran, produk-produk hukum, riset dan local content lainnya tersedia di sini. Perpustakaan memberikan akses terbuka kepada pengguna. Kapan dan di mana pun perpustakaan dapat diakses. Dengan adanya katalog online dan aplikasi perpustakaan dalam genggaman, memungkinkan perpustakaan memberikan akses seluas-luasnya kepada karya intelektual yang dihasilkan Kementerian Agama yang  dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

 

Dikuatkan dengan regulasi  UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan memiliki fungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa, Kini perpustakaan bukan hanya menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, menjadi perpustakaan rujukan, pusat deposit, dan pusat sumber belajar masyarakat di lingkungan lembaga induk, tetapi perpustakaan sudah bergeser dari collection oriented menjadi ruang kolaboratif & sosial. Ia bertransformasi menjadi third place (ruang ketiga) tempat untuk co-working space yang asyik, cool, sebagai refreshment, ruang belajar mandiri, diskusi yang nyaman dan kegiatan sosial, yang tidak      
lagi kaku.

 

 

Konsep third place (tempat ketiga) diperkenalkan oleh sosiolog Ray Oldenburg tahun 1999 dalam buku The Great Good Place. Ia mengacu pada tempat selain rumah (first place) dan tempat kerja (second place) yang menjadi ruang sosial bagi masyarakat untuk berkumpul, berinteraksi, dan berbagi ide. Hiruk-pikuk masyarakat perkotaan tidak lantas meniadan kebutuhan ruang bersosialisasi, berinteraksi dan saling terhubung. Kini, dengan adanya mini theatre di perpustakaan, menambah deretan dinamika dan semaraknya aktivitas di perpustakaan.

 

Pergeseran orientasi perpustakaan sejatinya adalah usaha perpustakaan beradaptasi dengan perkembangan zaman yang ada. Di tengah gempuran dan tumpah-ruah informasi, perpustakaan berusaha tetap eksis dan memberikan sentuhan humanis. Tempat ketiga third place yang menghubungkan orang-orang untuk berbagi rasa dan karsa. 

Editor: Rizki Dewi Ayu
Fotografer: -
Bagikan Artikel: