Perpustakaan Kemenag RI
KEMENTERIAN AGAMA RI

Detail Buku Ber-ISBN

Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Remaja Perspektif Islam Modul 1 Panduan Guru
ISBN 978-602-293-274-1

2

Eksemplar Tersedia

Kembali ke Katalog

Pendidikan Kesehatan Reproduksi Untuk Remaja Perspektif Islam Modul 1 Panduan Guru

Amin Suyitno

Imam Bukhori Hanun Asrohah Siti Sakdiyah M. Amin Hasan Ely Sawitri Sanyulandy Leowalu Hastin Atas Asih Desrina Dewi Respati Fahd Riyadi Restri Rahmawati Febrie G. Saputra Hastamik Purbatin Wahyuningsih Amin Suyitno Fakhrurrozi Destin Daifa

ISBN/ISSN

978-602-293-274-1

Tahun Terbit

2025

Penerbit

Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam

Tempat Terbit

Jakarta

Deskripsi Fisik

226 hlm.; ilus.; 30 cm

Nomor Panggil

DJ1 2025 4

Klasifikasi

DJ1

Bahasa

Indonesia

Jenis Media

Text

Subjek / Kata Kunci

REPRODUKSI KESEHATAN

Catatan

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja merupakan salah satu isu penting yang hingga kini masih menjadi perdebatan, terutama di tengah masyarakat yang seringkali menganggap pembicaraan tentang seksualitas sebagai sesuatu yang tabu. Padahal, masa remaja adalah periode krusial dalam kehidupan manusia, ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang sangat pesat. Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Berperspektif Keislaman hadir sebagai panduan yang komprehensif bagi guru untuk mendampingi peserta didik dalam memahami dan mengelola fase perkembangan ini. Modul ini disusun oleh para pakar kesehatan reproduksi, akademisi Islam, serta praktisi pendidikan dengan tujuan membekali remaja agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat, berakhlak, dan bertanggung jawab, sekaligus meluruskan kesalahpahaman bahwa kesehatan reproduksi hanya sebatas urusan biologis semata. Sejak kata pengantar hingga isi, modul ini menekankan bahwa tubuh manusia adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah Swt. Oleh karena itu, memahami kesehatan reproduksi bukan hanya sebuah kebutuhan praktis, tetapi juga merupakan bagian dari ibadah dan penghambaan. Islam memandang tubuh sebagai ciptaan Allah yang harus dijaga kesuciannya, diperlakukan dengan hormat, serta digunakan untuk tujuan mulia. Nilai-nilai keislaman yang menekankan pentingnya menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan kehormatan diri menjadi landasan utama modul ini. Dengan demikian, pendidikan kesehatan reproduksi bukan hanya dimaknai sebagai transfer pengetahuan tentang organ tubuh, menstruasi, atau pubertas, tetapi juga sarana internalisasi nilai moral, etika, dan spiritual yang membentuk karakter remaja muslim. Modul ini menguraikan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi remaja masa kini. Perkembangan teknologi informasi yang masif membuat arus pengetahuan tentang seksualitas begitu mudah diakses, bahkan sering kali tanpa filter moral maupun landasan ilmiah. Media sosial, situs internet, dan pergaulan bebas memberikan informasi yang belum tentu benar dan justru dapat menyesatkan. Banyak remaja akhirnya terjebak dalam perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan tubuh, eksploitasi seksual, hingga kekerasan berbasis gender. Di sinilah pentingnya modul ini: ia hadir untuk memberi arah agar remaja tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam memilah informasi dan mampu menjaga martabat dirinya di tengah derasnya arus globalisasi. Pendekatan yang digunakan modul ini bersifat holistik dan transformatif. Di satu sisi, ia memberikan pengetahuan ilmiah tentang tubuh, pubertas, kesehatan reproduksi, dan dinamika emosional remaja. Di sisi lain, ia menekankan pentingnya spiritualitas Islam sebagai pedoman dalam memahami dan mengelola perubahan diri. Guru diposisikan bukan sekadar penyampai informasi, tetapi fasilitator yang mampu membuka ruang diskusi sehat, mendengar suara peserta didik, dan menumbuhkan kesadaran kritis tanpa menghakimi. Modul ini bahkan mendorong agar para pendidik berani membicarakan isu-isu yang dianggap tabu, seperti mimpi basah atau menstruasi, dengan tetap mengedepankan adab, ilmu, dan nilai-nilai agama. Sikap terbuka ini diharapkan dapat mematahkan stigma negatif, membangun rasa percaya diri remaja, serta menumbuhkan penghormatan terhadap tubuh sebagai karunia Allah. Tujuan akhir modul ini tidak hanya sebatas membekali remaja dengan informasi tentang kesehatan reproduksi, tetapi juga menanamkan keterampilan hidup yang relevan dengan tantangan zaman. Modul menekankan pentingnya kemampuan mengambil keputusan, mengelola stres, memahami emosi, menjalin relasi sosial yang sehat, serta menjaga batasan diri sesuai tuntunan agama. Dengan bekal ini, remaja diharapkan dapat membangun masa depan yang lebih baik, mampu melindungi diri dari kekerasan dan diskriminasi, serta berkontribusi positif bagi masyarakat. Pendidikan kesehatan reproduksi dalam perspektif Islam juga diproyeksikan sebagai sarana memperkuat karakter bangsa: membentuk generasi yang sehat jasmani, cerdas emosional, matang secara sosial, serta kokoh dalam keimanan. Lebih jauh, modul ini juga menggarisbawahi bahwa pendidikan kesehatan reproduksi merupakan hak setiap anak dan remaja, sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Kesehatan dan regulasi lainnya. Namun, yang membedakan modul ini dengan pendekatan umum adalah orientasinya yang mengakar pada nilai keislaman. Jika dalam pendekatan sekuler isu reproduksi sering hanya ditekankan dari aspek medis atau hak asasi manusia, maka modul ini memadukannya dengan dimensi spiritual dan moral. Islam diposisikan bukan sebagai pembatas yang mengekang, tetapi sebagai pedoman yang memberikan arah agar seksualitas dipahami secara benar dan bermartabat. Hal ini selaras dengan prinsip mu‘asyarah bil ma‘ruf—relasi yang dibangun atas dasar saling menghormati dan saling melindungi antara laki-laki dan perempuan. Akhirnya, modul ini hadir bukan hanya sebagai bahan ajar, tetapi juga sebagai instrumen dakwah kultural yang mengajak seluruh elemen pendidikan untuk membangun remaja yang sehat dan berakhlak mulia. Pendidikan kesehatan reproduksi dalam perspektif Islam tidak lagi dilihat sebagai wacana pinggiran, tetapi sebagai kebutuhan mendasar untuk menjaga generasi. Modul ini mengajarkan bahwa membicarakan tubuh, pubertas, dan seksualitas bukanlah sesuatu yang tabu, asalkan dilakukan dalam kerangka ilmiah, etis, dan religius. Dengan cara ini, pendidikan kesehatan reproduksi akan melahirkan remaja yang mampu mensyukuri tubuhnya, menjaga kesuciannya, serta menggunakannya untuk tujuan yang diridhai Allah Swt. Lebih dari itu, ia akan melahirkan generasi yang tangguh, sehat lahir batin, dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri keislaman.

Daftar Eksemplar

Kode Item No. Panggil Jenis Status Lokasi
DJ142025T TD_DJ1 2025 4 Tandon Terbitan Kemenag Tersedia Perpustakaan Kementerian Agama RI
DJ1420251 DJ1 2025 4 Terbitan Kementerian Agama Tersedia Perpustakaan Kementerian Agama RI