Detail Buku Ber-ISBN
Syekh Yusuf Tentang Wahdat Al Wujud : Suntingan Dan Analisis Intertekstual Naskah Qurrat Al-'Ain
Machasin
ISBN/ISSN
978-602-8766-78-4
Tahun Terbit
2013
Penerbit
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan
Tempat Terbit
Jakarta
Deskripsi Fisik
vi, 156 hlm.; 21 cm
Nomor Panggil
P3 2013 111
Klasifikasi
P3
Bahasa
Indonesia
Jenis Media
Text
Subjek / Kata Kunci
Catatan
Salah satu naskah kuno berbahasa Arab adalah karya Syekh Yusuf al-Makassari, seorang ulama besar abad ke-17 M, yang berjudul *Qurrat al-'Ain*. Salah satu naskah karya ini tersimpan di Perpustakaan Nasional di Jakarta dengan nomor katalog 101 dalam kelompok naskah berbahasa Arab. Naskah lainnya tercatat di Perpustakaan Leiden dengan nomor katalog Or. 7025. Sebagaimana karya-karya Syekh Yusuf pada umumnya, kitab *Qurrat al-'Ain* membahas ajaran tasawuf. Jika pada mulanya ajaran tasawuf yang berkembang di Nusantara pada abad ke-16 M didominasi oleh ajaran *wahdat al-wujud* yang dikembangkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani dengan mengacu pada pemikiran Ibn Arabi, kitab *Qurrat al-'Ain* justru memuat penolakan terhadap ajaran *wahdat al-wujud* yang berkembang di Nusantara. Sebelum masa Syekh Yusuf, polemik mengenai ajaran *wahdat al-wujud* sebenarnya telah terjadi di Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, ajaran *wahdat al-wujud* tumbuh subur dan mendapat respons positif dari masyarakat Aceh. Sultan sendiri bahkan menjadi pelindung ajaran tersebut. Braginsky menyebutkan bahwa tasawuf mazhab Ibn Arabi mempermudah penyebaran Islam ke berbagai lapisan masyarakat. Gagasan-gagasan Islam tersebut mampu menyatu dengan berbagai kepercayaan dan pemikiran keagamaan lokal serta menunjukkan toleransi terhadap kepercayaan pra-Islam. Namun, di luar Aceh muncul gejolak penolakan terhadap ajaran tersebut. Di Gujarat, terdapat berita bahwa Aceh telah mengalami krisis akidah. Oleh karena itu, Nuruddin al-Raniri datang ke Aceh sekitar tahun 1628 dengan membawa ajaran yang menentang paham *wahdat al-wujud*. Akan tetapi, pada awal kedatangannya, ajaran tersebut belum mendapat penerimaan luas dari masyarakat. Baru pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani, setelah wafatnya Syamsuddin al-Sumatrani pada 1636 M, Nuruddin al-Raniri dapat menjalankan misinya untuk memberantas ajaran *wahdat al-wujud*, yang menurut pandangannya telah menyimpang dari syariat Islam.
Daftar Eksemplar
| Kode Item | No. Panggil | Jenis | Status | Lokasi |
|---|---|---|---|---|
| P311120131 | P3 2013 111 | Kelitbangan | Tersedia | Perpustakaan Kementerian Agama RI |