Detail Buku Ber-ISBN
Kesultanan Serdang : Perkembangan Islam Pada Masa Pemerintahan Sulaiman Shariful Alamsyah
Ichwan Azhari
ISBN/ISSN
9780602-8766-81-4
Tahun Terbit
2013
Penerbit
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan
Tempat Terbit
Jakarta
Deskripsi Fisik
vii, 228 hlm.; 21 cm
Nomor Panggil
P3 2013 107
Klasifikasi
P3
Bahasa
Indonesia
Jenis Media
Text
Subjek / Kata Kunci
Catatan
Pada abad ke-18, berdiri pula Kesultanan Serdang yang wilayah kekuasaannya berdampingan dengan Kesultanan Deli. Kedua kesultanan ini masih memiliki hubungan kekerabatan. Menurut Sinar, sultan pertama di wilayah Serdang adalah salah seorang cucu Seri Paduka Gocah Pahlawan yang bernama Tuanku Umar Johan Pahlawan. Jika dilihat berdasarkan peta saat ini, wilayah kekuasaan Kesultanan Serdang terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai. Setelah perkebunan tembakau dibuka di wilayah Kesultanan Serdang pada paruh kedua abad ke-19, daerah ini secara bertahap mengalami kemajuan. Hal ini ditandai dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dari Rantau Panjang ke Perbaungan. Di Perbaungan, sultan mendirikan Istana Kota Paluh dan Istana Darul Arif. Selain itu, sultan juga mendirikan masjid yang diberi nama Masjid Sulaimaniyah. Wilayah pesisir Sumatera Timur semakin menarik perhatian Belanda, terutama setelah daerah ini berhasil mengembangkan penanaman tembakau. Seiring dengan pesatnya kemajuan tersebut, pemerintah kolonial Belanda beberapa kali melakukan perubahan pembagian wilayah. Pada tanggal 15 Mei 1873, wilayah Sumatera Timur, termasuk Siak, dikeluarkan dari Provinsi Riau dan dijadikan residensi tersendiri dengan ibu kota Bengkalis. Residensi ini membawahi beberapa afdeeling, yaitu Deli (kontrolir di Labuhan), Asahan (kontrolir di Tanjung Balai), dan Labuhan Batu. Residen yang menjabat saat itu adalah J. Locker de Bruijne.
Daftar Eksemplar
| Kode Item | No. Panggil | Jenis | Status | Lokasi |
|---|---|---|---|---|
| P310720131 | P3 2013 107 | Kelitbangan | Tersedia | Perpustakaan Kementerian Agama RI |