Perpustakaan Kemenag RI
KEMENTERIAN AGAMA RI
Gila Baca Ala Ulama

Diresensi Oleh

H

Hariyah

30 Sep 2026

Resensi Buku 30 September 2026

Gila Baca Ala Ulama

Judul Buku

Gila Baca Ala Ulama: Potret Keteladanan Ulama dalam Menuntut Ilmu

Pengarang

Ali bin MuhammadAl-โ€˜Imran

Penerbit

Pustaka Arafah

Tebal Buku

178 halaman

Membaca buku ini, pembaca diajak menyelami bagaimana kebiasaan para ulama terdahulu dalam melahap semua buku-buku dengan membaca dan mengkajinya secara tekun. Bahkan ketekunan ini terkadang mengalahkan apapun yang secara logis disenangi sebagian besar orang seperti kesenangan terhadap duniawi lainnya.

            Aktivitas membaca sesungguhnya sangat menyenangkan bagi mereka yang sudah merasakan manfaatnya dan sebagai hobi yang memiliki kenikmatan tersendiri. Sayangnya sebagai besar orang belum banyak yang bisa mengambil kesempatan dan hikmah di balik aktivitas membaca ini.

            Tidak jarang membaca adalah aktivitas yang sungguh melelahkan dan membosankan. Sebagian besar orang tak tahan berlama-lama membaca bahkan mengkaji apa yang dibacanya. Hal ini tentu saja menjuhkan mereka dari buku dan ilmu yang sejatinya menambah pengetahuan dan kecerdasan mereka.

            Tentu saja kondisi ini menjadi kurang menguntngkan dan tidak produktif untuk menghasilkan manusia-manusia yang memiliki keunggulan ilmu. Beda sekali dengan yang dicontohkan para ulama masa lalu yang memiliki ‘kegilaan’ dalam membaca.

            Penulis buku ini memaparkan dengan gamblang bagaimana ulama-ulama terdahulu mencari dan mendalami ilmu. Bahkan mereka rela menghabiskan sebagian besar waktu, harta bahkan juga jiwanya untuk mendalami ilmu. Disebutkan oleh penulis beberapa contoh kejadian nyata yang dialami ulama saat membaca atau mencari ilmu, diantaranya ada yang rela membujang (bukan karena tidak mau menikah) saking sibuknya mencari ilmu.

            Penulis mengungkapkan bagaimana para ulama telah memberikan contoh, bukti dan petunjuk atas kecintaan, semangat dan dedikasi  mereka  dalam rangka mendapatkan ilmu. Salah satu contoh adalah kehidupan para ulama bersama buku. Buku selalu menemani mereka saat bepergian, ke luar rumah, atau aktivitas lainnya.

            Buku yang penuh motivasi ini digagas penulis dengan dua alasan penting. Pertama, penulis melihat para pelajar enggan menempatkan kitab-kitab ilmu pada tempatnya. Mereka menurunkan dari kedudukannya dan sibuk dengan  yang lainnya. Ada sebagian mereka yang beranggapan jika sudah memiliki ilmu tak perlu lagi membaca, mengkaji atau menelaah ilmu. Mereka merasa cukup dengan gelar, ijazah, pangkat dan jabatan yang dimiliki.

            Alasan yang kedua adalah, penulis ingin membangkitkan semangat, mengasah pikiran, dan membuka cakrawala para penuntut ilmu  mengenai kehidupan para ulama dan imam generasi salafush shalih, tentang kesabaran dan keseriusan mereka dalam mendapatkan ilmu dan mengajarkannya. Contoh kehidupan para ulama mempunyai pengaruh dalam membangkitkan dan membangun semangat. Ini terbukti dengan pemahaman para ulama terhadap nilai kejayaan yang agung (buku) dan simpanan yang berharga (ilmu).

            Buku ini memuat beberapa bab yang menarik sehingga pembaca penting untuk terus mengikutinya. Bab pertama: Motivasi untuk selalu menambah dan mendalami ilmu. Bab kedua: Kecintaan para ulama terhadap buku. Bab ketiga: Membaca buku tebal dalam waktu singkat. Bab keempat: Membaca satu buku berulang-ulang. Bab kelima: Mengajarkan satu buku berulang kali. Bab keenam: Ketekunan dan kesabaran para ulama dalam menyalin buku. Dan bab ketujuh: Hal-hal yang perlu diperhatikan.

            Daria beberapa bab yang disampaikan penulis, beberapa hal menarik yang bisa menjadi teladan terbaik adalah kisah-kisah para ulama dalam membaca dan mencari ilmu. Disebutkan misalnya Abul Wafa’ Ibnu Aqil Al-Hanbali (w.513 H) yang menulis kitab Al-Funun dalam 800 jilid, Ibnul Khasysyab An-Nawawi (w.567 H) yang menyusun banyak kitab dan memiliki perpustakaan besar, Abul Ala’ Al-Hamadani (w.569 H) yang luas ilmunya dan sangat mencintai buku, Ibnu Hubairah (w.560 H) seorang menteri yang shalih dan juga menulis kitab Al-Ayadi Al-Baidha ‘Ala Al-‘Ilm wa Al-‘Ulama.

            Penulis mengisahkan para ulama yang sangat mencintai buku dan kedudukannya di hati mereka. Kecintaan Ibnu Duraid (w.321 H) pada ilmu dan buku bahkan menganggapnya sebagai rekreasi hati, kegemaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w.728 H) dalam menelaah dan membahas buku bahkan tetap membaca meski sedang sakit, Ibnul Jauzi (w.597 H) yang membaca 200.000 jilid buku, Ibnul Aqil (w.513 H) kesibukannya dalam membaca dan mengasah ilmu bahkan beliau lebih memilih makan roti kering yang dicelupkan air agar mudah dicerna dan dikunyah daripada memakan roti biasa agar punya cukup waktu lebih banyak untuk membaca dan menulis ilmu yang belum diketahui.

Banyak ulama lainnya yang sibuk mendalami ilmu, lebih mencintai buku daripada sebongkah emas, pintar mengatur waktu dan belajar, menulis selama berpuluh-puluh tahun, tetap belajar meski berada di kamar kecil, tidak bosan belajar meski harus sering bergadang. Mereka juga  menjadikan buku sebagai teman perjalanan, menjadikan buku dan pena sebagai pendamping setia, tidak perpisah dengan buku meski harus memanggulnya, lebih suka bergelut dengan buku daripada bercengkerama dengan manusia. Diantara mereka  bahkan ada yang tak sempat menikah karena kesibukan ibadah dan belajar, sibuk menyalin buku, membaca dan mengajar, tetap membaca meski sedang dalam pertemuan khusus.

Selain itu, ada juga diantara mereka singgah di kuburan hanya sekedar untuk membaca, lebih memilih buku daripada bersama ajudan. Bahkan ada ulama yang tidak tidur selama 40 tahun kecuali ada sebuah buku tergeletak di dadanya. Sebagian mereka mengusir kantuk dengan membaca buku, ada yang menjadi rabun karena banyak membaca buku, bahkan bermimpi masuk surga bersama buku. Buku bagi mereka lebih dahsyat daripada tiga istri, membawa buku ke manapun pergi, bahkan melahap 700 koleksi buku perpustakaan dan merasa sedih jika harus menjual buku.

Kecintaan ulama terhadap buku yang luar biasa juga terlihat dari kegemaran mereka membaca buku tebal dalam waktu singkat. Al-Khatib Al-Baghdadi (w.463 H) khatam Shahih Al-Bukhari dalam tiga kali pertemuan, Abdullah bin Sa’id bin Lubbaj Al-Umawi (w.436 H) satu pekan tuntas mengajarkan Shahih Muslim. Kemudian Al-Mu’taman As-Saji (w.507 H) membaca Al-Muhaddist Al-Fashil dalam sekali pertemuan, Thalhah bin Muzhaffar Al-Altisi Al-Hanbal (w.593 H) membaca Shahih Muslim dalam tiga kali pertemuan. Al-Izz bin Abdussalam (w.660 H) membaca Nihayah Al-Mathlab dalam tiga hari. Ibnu Al-Abbar (w.658 H) enam hari mengkhatamkan Shahih Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  (w.728 H) sekali membaca khatam Al-Ghailaniyyat.

Selain itu ada Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi (w.748 H) khatam membaca Sirah Ibn Hisyam dalam enam hari. Sirajuddin Ibnul Mulaqqin (w.804 H) membaca dua jilid kitab Al-Ahkam dalam sehari. Sirajuddin Al-Bulquni (w.805 H) khatam satu jilid kitab fikih dalam sehari. Al-Hafizh Zainuddin Al-Iraqi (w.806 H) tuntas menyetorkan hafalan Shahih Muslim dalam enam kali pertemuan. Dan masih banyak ulama lainnya yang mengkhatamkan bacaannya dalam waktu singkat.

Selanjutnya, penulis juga mengisahkan tentang ulama yang gemar membaca buku berulang-ulang. Rabi’ Ibnu Sulaiman Al-Muzani (w.264 H) 50 tahun membaca Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’i. Abu Bakr bin Athiyyah membaca Shahih Al-Bukhari sebanyak 700 kali. Ibnu At-Tabban bahkan membaca kitab Al-Mudawwanah  1000 kali. Termasuk juga Abbas bin Walid Al-Fasi (w. 218H) telah mempelajari buku yang dipelajarinya sebanyak 1000 kali.  

            Tak terkira begitu besarnya kecintaan ulama terhadap buku dan ilmu. Diantara mereka mengajarkan satu kitab hingga berulang-ulang tiada bosan. Mereka mengajarkan kitab Al-Muhazdzdab sebanyak 25 kali, mengajarkan kitab Shahih Muslim lebih dari 60 kali, mengajarkan kitab Al-Muqni 100 kali, membacakan kitab AL-Hawi 30 kali, mengajarkan kitab Al-Ubab 800 kali, mengajarkan kitab At-tadzkiroh 40 kali, dan banyak lagi yang lainnya.

            Para ulama memang mempelajari berbagai macam ulama. Dan semua itu ditujukan untuk mendekatkan diri mereka kepada Sang Khaliq, bermanfaat untuk diri dan masyarakat. Untuk itu mereka selalu berusaha menyeimbangkan antara membaca buku dengan belajar dari seorang guru, mengenal metode-metode membaca, dan mencatat faedah yang terkandung di dalam aktivitas membaca.

            Keunikan dari buku ini, selain berisi motivasi yang luar bisa tentang membaca, penulis selalu menyisipkan pada halaman-halaman tertentu yang memuat quotes menarik, antara lain, pertama, Ibnul Qayyim mengatakan, “Kerinduan para penuntut ilmu terhadap ilmu lebih besar daripada kerinduan seseorang terhadap kekasihya. Kebanyakan mereka tidak terpesona  dengan keelokan fisik manusia.” (hal.15).

Al-Qadhi Syamsuddin Ad-Diri berkata, “Ketika berada di Baitul Maqdis, saya mendengar Syaikh Alauddin Al-Bisthami ditanya, “Pernahlah Anda melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah?” ‘Ya’, jawabnya. Saya pun ikut bertanya, ‘Bagaimana gambaran keadaannya?’ Syaikh Alauddin balik bertanya, “pernahkah kamu melihat kubah batu yang besar?’ ‘Ya’,  jawabku. Dia berkata, “Ibnu Taimiyyah itu seperti kubah batu besar penuh dengan buku dan memiliki lidah untuk berbicara’.” (hal.35.)

Abul Barakat, apabila mau masuk ke WC untuk membuang hajat, maka beliau menyuruh anaknya untuk membacakan suatu buku dengan bacaan yang keras agar dia bisa mendengar. (hal. 61)

Al-Lu’luai berkata, ”Selama 40 tahun, aku tidak tidur siang ataupun tidur malam, serta tidak beristirahat sambil bersandar kecuali ada sebuah buku yang tergeletak di atas dadaku.” (hal.77)

Syaikh Ali Thanthawi berkata, “Aku hari ini adalah aku yang kemarin. Sebagaimana dahulu ketika aku masih kecil, aku menghabiskan hari-hariku di dalam rumah untuk membaca. Dahulu aku pernah membaca 300 lembar dalam sehari, sedangkan kalau dirata-rata aku membaca 100 lembar tiap harinya yaitu sejak tahun 1340 hingga 1402  H, 62 tahun, coba hitung ada berapa hari di dalamnya, lalu kalikan seratus. Kalian lebih tahu berapa halaman yang telah kalian baca. Sedang saya membaca seluruh tema, hingga tema-tema ilmu pengetahuan.” (hal.94).

“Apabila rasa kantuk mulai menyerang kedua mataku bukan pada waktunya, maka aku segera membaca buku mutiara hikmah. Kemudian spirit membacaku pun kembali tergugah. AKu menemukan kembali kelapangan hati saat harus memenuhi kebutuhan. Sedang kesenangan dan kemuliaan yang memenuhi hatiku lebih cepat membuatku bangun daripada ringkikan keledai atau gemuruh reruntuhan.” (hal.96).

Membaca satu buku sebanyak tiga kali lebih bermanfaat daripada membaca tiga buku dengan sekali baca. (hal.124).

Abu Bakr bin Athiyyah mengatakan dirinya pernah membaca Shahih Al-Bukhari berulang kali sebanyak 700 kali. (hal.127).

Di antara satu bukti ketekunan Al-Humaidi adalah jika malam musim panas tiba beliau menyalin buku sambil berendam di ember yang telah diisi air agar tubuhnya menjadi dingin. (hal.147).

Cukup menarik apa yang disampaikan penulis buku ini, “Sungguh, cara melestarikan khazanah ini tidak sekedar menyusun di dalam lemari indah, menghiasi, menerbitkan dan mengeditnya. Cara yang paling baik untuk melestarikannya adalah dengan membangkitkan gerakan ilmiah serta menumbuhkan dan meninggikan cita-cita. Marilah kita tambah setiap hari barisan pembaca dengan wajah-wajah baru. Mereka harus tekun membaca khazanah itu dan mengambil manfaat darinya. Hanya dengan cara ini semua sarana penunjang (penyimpanan, penyusunan, dan penerbitan) berkembang dan menjadi sempurna. Para pelajar dan peneliti terdorong untuk menghidupkan semua itu dengan motivasi dan hasrat yang ada dalam dirinya. Sebab, pada tahapan ini mereka adalah orang-orang yang paling membutuhkan dan paling mengetahui nilai khazanah peninggalan para ulama itu. (hal.18).

Demikianlah kesungguhan yang luar buasa dari para ulama yang patut mejadi contoh dan teladan para kutu buku dan pembaca sekalian. Sebuah kebiasaan dan keteladanan di luar rata-rata kemampuan orang lain pada umumnya. (HAR)