Perpustakaan Kemenag RI
KEMENTERIAN AGAMA RI
Kabar Utama

Perpustakaan Kemenag-Kemenkes Perkuat Sinergi Moderasi Beragama dan Pendekatan Kesehatan Berbasis Sosial Budaya

BA
Bayu Muhardianto
05 Februari 2026
Perpustakaan Kemenag-Kemenkes Perkuat Sinergi Moderasi Beragama dan Pendekatan Kesehatan Berbasis Sosial Budaya

Jakarta (BMBPSDM)---Moderasi Beragama sebagai ikhtiar merawat kerukunan di tengah keberagaman bukanlah hal baru. Nilai-nilai tersebut telah lama tertanam dalam jati diri masyarakat Indonesia. Pengarusutamaan Moderasi Beragama digaungkan sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur yang mampu mempersatukan masyarakat di tengah perbedaan pada masa kini.

Hal itu disampaikan Kepala Bagian Umum, Perpustakaan, dan BMN Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Rizky Riyadu Taufiq, saat menerima kunjungan 10 pustakawan Kementerian Kesehatan di Perpustakaan Kemenag RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

“Kita ini sudah terlalu lama jauh dari nilai-nilai sosial budaya kita, misalnya gotong royong, guyub, dan sebagainya,” jelas Rizky.

Menurut Rizky, seluruh agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan, seperti hidup rukun, damai, gotong royong, dan kebersamaan.

Ia menjelaskan bahwa Moderasi Beragama merupakan upaya Kementerian Agama RI untuk menghimpun nilai-nilai luhur dan kearifan lokal, baik yang bersumber dari keyakinan agama-agama di Indonesia maupun dari budaya lokal yang berkembang di masyarakat.

“Kemenag punya literatur Moderasi Beragama dalam tujuh bahasa yang kita promosikan ke negara-negara yang relatif resisten terhadap konflik yang mengatasnamakan agama maupun perbedaan budaya,” ungkapnya.

Sementara itu, pustakawan Kementerian Kesehatan, Giri Inayah, menyampaikan bahwa di era modern saat ini, pendekatan sosial budaya dan keagamaan sangat diperlukan untuk menjawab berbagai persoalan kesehatan, termasuk isu kesehatan mental.

Perpustakaan Kemenag RI

Menurutnya, di sinilah peran penting Moderasi Beragama dengan pendekatan humanis berbasis agama dan budaya dapat berkolaborasi dengan keilmuan saintifik, seperti kedokteran.

“Terkait dengan Moderasi Beragama, berarti kita memang perlu membuka wawasan masyarakat dan publik bahwa kearifan lokal ini akan semakin baik bila dikombinasikan dengan ilmu yang saintis, terukur, dan berbasis data,” jelas Giri.

Giri juga mengapresiasi layanan Perpustakaan Kemenag RI, mulai dari koleksi buku, Al-Qur’an terjemahan bahasa daerah, hingga edukasi Moderasi Beragama melalui penayangan film pendek di Mini Teater Kemenag.

“Mudah-mudahan apa yang kami dapat di Perpustakaan Kemenag ini bisa kami bawa pulang dan dikembangkan di Kemenkes,” pungkasnya.

Editor: Barjah
Fotografer: Nova Agung Krismauf
Bagikan Artikel: