Jakarta (BMBPSDM)---Puluhan peserta tampak antusias mengikuti kegiatan Silent Reading yang diselenggarakan Perpustakaan Kementerian Agama Republik Indonesia pada Kamis, 23 April 2026. Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Buku Dunia ini tidak hanya menghadirkan sesi membaca senyap (silent reading), tetapi juga diskusi ringan yang melibatkan masyarakat umum, mahasiswa, komunitas literasi, guru, serta para penyuluh lintas agama.
Kepala Bagian Umum, Perpustakaan, dan BMN Badan Moderasi Beragama dan Pengembanngan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama, Rizky Riyadu Taufiq, dalam arahannya menyampaikan bahwa minat terhadap literasi model konvensional melalui membaca buku masih cukup tinggi.
“Perkembangan teknologi saat ini memang menjadi tantangan bagi perpustakaan maupun para pecinta dunia literasi. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kita harus tetap mampu berjalan beriringan dengan beradaptasi secara kreatif dan inovatif,” ujarnya di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Menurut Rizky, buku tetap menjadi sumber pengetahuan yang paling komprehensif dan abadi. Keberadaan buku memiliki nilai akademik yang kuat karena melalui proses penulisan, penyuntingan, hingga penerbitan.

“Kita meyakini bahwa sumber pengetahuan yang paling komprehensif dan abadi tetaplah buku. Karena itu, kami mengapresiasi kehadiran para peserta yang menunjukkan kepada masyarakat bahwa membaca buku merupakan hal yang penting,” lanjutnya.
Rizky juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran membaca sejak dini, terutama bagi anak-anak dan remaja. Menurutnya, di tengah banjir informasi digital, buku tetap menjadi sumber rujukan yang lebih terpercaya dibandingkan informasi singkat yang beredar melalui gawai dan media sosial.
“Saat ini semua orang bisa membuat konten dan menyebarkannya melalui internet, tetapi tidak semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, semangat literasi melalui membaca buku harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Salah seorang peserta, Sherly, dari MTsN 1 Kota Tangerang, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Silent Reading karena melalui kegiatan tersebut ia dapat bertemu dengan komunitas yang memiliki perhatian terhadap minat baca. Menurutnya, di era perkembangan teknologi saat ini masih banyak orang yang peduli terhadap pengetahuan yang diperoleh langsung dari buku.
“Di zaman ini, anak-anak sudah mulai berkurang kegemarannya dalam membaca buku. Dengan adanya kegiatan ini, orang-orang, termasuk saya sendiri, bisa lebih termotivasi untuk peduli terhadap kegiatan membaca buku,” ujarnya.
Sherly berharap kegiatan tersebut dapat terus berlanjut dan mampu membina berbagai komunitas. Ia juga berharap jumlah peserta pada kegiatan berikutnya semakin banyak sehingga lebih banyak masyarakat yang mendapatkan kesempatan untuk ikut serta.
“Saya berharap kegiatan ini terus berlanjut dan dapat membina komunitas-komunitas. Ke depannya, peserta kegiatan ini tidak hanya terbatas, tetapi dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat yang lebih luas,” sambungnya.
Menurut Sherly, salah satu hal menarik dari kegiatan Silent Reading adalah sesi diskusi buku. Diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif membuat dirinya dapat mengetahui isi buku yang dibaca oleh peserta lain.
Antusiasme para peserta menunjukkan budaya membaca masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, BMBPSDM berharap semangat literasi dapat terus tumbuh dan menjangkau lebih banyak kalangan, sehingga buku tetap menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan.